Foto by Debbie Samson

Negeri Hatu  memiliki komunitas masyarakat yang majemuk. Sejarah mencatat bahwa asal mulanya kedatangan bangsa-bangsa di Negeri Hatu pertama kali oleh bangsa Alifuru yang terdiri  atas empat marga, kemudian dikelompokan dalam suatu komunitas  kecil yang dikenal dengan nama Soa Souhuat. Selanjutnya datang lagi  komunitas bangsa kedua yang disebut Soa Hatulessy, terdiri atas empat marga. Kemudian bangsa yang ke tiga dikenal dengan nama Soa Malupang hanya terdiri atas satu marga. Ke tiga kelompok soa ini hidup menempati tempat yang terpisah,  masing-masing komunitas hidup dalam suatu persekutuan, dan tetap menjalin kebersamaan hidup yang baik diantara ketiga soa tersebut.

Membaca sejarah Negeri Hatu Katuru Henamantelu, maka  kita akan menemukan berbagai kekayaan adat dan budaya di Indonesia. Kearifan adat dan budaya Negeri Hatu yang dilandasi dengan nilai-nilai kebersamaan telah menjadi ciri khas Negeri ini. Nilai-nilai ini seolah telah mengukuhkan esksistensi kerukunan dan kebersamaan dalam kehidupan social bermasyarakatnya dan menjadi hal yang tidak terpisahkan dalam keseharian orang Hatu. Berikut sekilas acara adat Negeri Hatu Katuru Henamantelu yang perlu diketahui :

I. SOA SOUHUAT

Bangsa pertama yang mula-mula mendiami Negeri Hatu ini yang akan melakukan Tarian Adat pembukaan dalam setiap acara-acara penting dan acara-acara adat yang dilaksanakan dengan ciri khas budayanya yaitu ALIFURU

ALIFURU berasal dari kata “ALIF” yang artinya PERTAMA dan “URU” yang artinya MANUSIA

Foto by Debbie Samson

Alifuru berarti orang yang pertama mendiami tempat.  Marga-marga yang dikenal dari bangsa ini adalah :

  1. Salamahu
  2. Hehamoni
  3. Tipawael
  4. Risteru

Keempat marga ini kemudian dinamakan SOA SOUHUAT. Mereka dipimpin oleh seorang puteri. Tempat tinggal mereka bernama KAMUALA. Asal mereka bernama NUSA INA PULAU IBU. Pakaian khas adat mereka terbuat dari daun-daun kelapa yang dianyam seperti Rok untuk menutupi tubuh mereka. Sedangkan laki-laki

Foto by Debbie Samson

menggunakan celana merah serta mengikat berang (kain merah) di kepala, membawa senjata perang dan tombak. Ini menunjukan keberanian laki-laki untuk maju di medan perang. Alat yang digunakan adalah bakul/tas, daun bira, tifa dan kulibia (keong). Alat-alat tersebut memiliki arti sebagai berikut :

  • Bakul/Tas adalah tempat untuk mengisi perbekalan (sirih, pinang, tabaku/tembakau dan sopi/jenis minuman keras lokal)
  • Daun Bira adalah payung puteri yang dipegang oleh dua orang dayang-dayang
  • Tifa dan Kulibia/Keong menandakan suara pemanggilan para leluhur

II. SOA HATULESSY

Foto by Debbie Samson

Bangsa kedua yang datang mendiami Negeri Hatu adalah marga-marga tersebut dibawah :

  1. Mamputty yang datang dari Piru. Mereka datang dengan membawa 2 (dua) cabang batang kalam susu
  2. Pikallima yang datang dari Maluku Utara (Weda). Mereka datang dengan membawa 5 (lima) buah piring
  3. Halatu yang datang dari Amahai
  4. Lena-Lena Latuconsina yang datang dari Pelau (pulau Haruku) ke Wakasiu kemudian berpindah ke Hatu. Kapitan ini datang dengan cara lena (berjalan) diatas batu dengan membawa jala dan seekor anjing.

III. SOA MALUPANG

Bangsa ketiga yang datang mendiami Negeri Hatu adalah keluarga besar Risanusu yang berasal dari Gorom (Nusa Ina). Mereka datang mengambang dalam gelombang membawa 40 orang perempuan dan 3 orang laki-laki. Ketiga orang laki-laki tersebut bertugas sebagai jurumudi, majoma (orang yang duduk paling depan di perahu) dan yang satu berada di tengah. Keluarga besar ini terombang-ambing dilautan sambil sai (panggayo/mendayung) hasa-hasa dengan wele (memperdengarkan) suara menyanyi

Foto by Robby Risamasu

Wele tama e laya wari e

Rata tuni sai usa sai o

Sio-sio, sio lah kona e

Lah kona ite tomala ja wario

Hasa-hasa pulau

Lihat  tanjong-tanjong e

Sope-sope nusu

Labuang maal e.

Foto by Robby Risamasu

Hasa-hasa pulau

Lihat tanjong-tanjong e

Perahu-perahu masuk

Lapuang susah e

Somba upu e

Ite somba upu e

Hormati lah Ila

Ite somba upu e

Akhirnya keluarga besar Risanusu ini berlabuh perlahan-lahan dengan sope-sope (sejenis perahu arumbai) mendekati pesisir pantai dan mengikat tali di batu rahang (hati kokang) sebagai jangkarnya. Setelah itu mereka turun ke darat dan tinggal (berdiam) di Negeri Hatu.

Foto by Debbie Samson

Setelah semua orang mendiami Negeri Hatu pada saat itu, mereka kemudian berencana untuk membentuk sebuah Negeri/Desa/Kampung, tetapi semuanya membutuhkan proses yang panjang. Kesepakatan yang dilakukan untuk membentuk Negeri itu adalah dengan proses (mawe) penggulingan telur. Telur diguling beberapa kali dari lokasi yang berbeda-beda (berganti-ganti). Sampai akhirnya menemukan tempat yang pas dan waktu yang pas. Telur diguling dan berhenti di Baileo (rumah adat Negeri Hatu). Penggulingan telur melambangkan Negeri Hatu Katuru Henamantelu. Henamantelu berarti Negeri Telur.

Demikianlah Negeri Hatu telah terbentuk. Dan ketika penjajah tiba di Bumi Maluku dan sampai ke Negeri Hatu, maka marga-marga dari SOA-SOA diatas mengalami perubahan marga.

  1. Mamputty menjadi Manuputty
  2. Pikallima menjadi Picaulima
  3. Halatu menjadi Hehalatu
  4. Lena lena Latuconsina menjadi Lenahatu
  5. Risanusu menjadi Risamasu

Upu Pemerintah adalah marga Hehalatu, karena marga ini yang berani menghadap Belanda pada saat  mereka dipanggil sehingga tongkat pemerintahannya diberikan hak kepada marga tersebut.

Note : SOA adalah rumpun dari beberapa marga yang secara geneologis tinggal bersama dalam satu komunitas

Sumber Cerita : Alm. Bpk. Pieter Manuputty (Hatu, Ambon)

Penyusun : Robby Risamasu (Hatu, Ambon), Debbie Samson (Jakarta)

Webmaster : Vensca Ginsel

About these ads