Hatukaturu Henamantelu (batu yang keluar)

31 Desember 2010 – Ibadah malam kunci tahun 2010. Inilah malam terakhir untuk mengakhiri seluruh rangkaian Acara Hatu Bakudapa yang diprogramkan oleh Panitia Acara Hatu Bakudapa 2010, Pihak Gereja dan Pemerintah Negeri Hatukaturu Henamantelu. Acara peribadatan dilakukan di Gereja Bethlehem GPM Jemaat Hatu dan  dikemas dengan sangat berbeda dari biasanya. Bagi setiap Anak-anak Negeri Hatu yang merantau ke negeri orang, malam ini adalah malam yang sangat berkesan dan begitu mengharukan selama berkunjung di Tanah Leluhur untuk mengikuti Acara Hatu Bakudapa. Well, mari kita mulai menelusuri rentetan acara ini melalui foto-foto🙂

Ibadah dimulaikan pada jam 8:00 malam WIT – diawali dengan penyerahan Dokumen Hasil Keputusan Musyawarah dan Pernyataan Sikap Anak-anak Negeri Hatu yang telah disepakati dan diputuskan bersama dalam acara Musyawarah Anak-anak Negeri Hatu pada tanggal 30 Desember 2010. Penyerahan hasil keputusan dan pernyataan sikap tersebut diberikan oleh Bpk. Gustaf Manuputty (Hatu-Manokwari) selaku moderator acara – mewakili Panitia Hatu Bakudapa, dan menyerahkannya kepada pemerintah Negeri Hatu yang diterima oleh Ketua Saniri Bpk. Jance Manuputty.

Foto by Debbie Samson
Foto by Debbie Samson

 

 

 

 

 

 

 

Setelah penyerahan dokumen hasil keputusan dan pernyataan sikap oleh Panitia Hatu Bakudapa kepada Pemerintah Negeri Hatu, maka ibadah malam kunci tahun 2010 pun dimulaikan. Ibadah ini dipimpin langsung oleh hamba Tuhan bpk. Pdt. J. Ch. Batlayery selaku Ketua Majelis Jemaat GPM Hatu.

Pdt. J. Ch. Batlayeri

 

 

 

 

 

 

 

Ibadah berjalan dengan sangat khidmat. Pemandangan dalam gereja yang megah itu terasa  sangat berbeda. Setiap hati terangkat ke hadirat Tuhan.. setiap jiwa memuji keagungan Allah sumber segala pertolongan itu. Tak ada aktivitas apapun di dalam ka’abah Allah, selain pujian dan penyembahan yang tertuju hanya kepada Dia yang berada di tempat yang Maha Tinggi.

Setelah ibadah itu selesai dilaksanakan, seluruh anak-anak negeri Hatu yang datang dari tanah perantauan itu tidak langsung pulang ke rumah. Ternyata Panitia Hatu Bakudapa, Pihak gereja dan pemerintah Negeri Hatu telah menyiapkan sebuah acara khusus yang sangat istimewa kepada mereka yang telah lama terpisah ini. Acara yang sangat mengharukan dan menguras air mata.

Acara khusus ini diawali dengan kata-kata sambutan yang dibawakan oleh Ketua Saniri Bpk. Jance Manuputty yang mewakili Pemerintah Negeri Hatu dan Bpk. Jopie Picaulima (Ketua Hatu-Jakarta) yang mewakili seluruh anak-anak Negri Hatu dari perantauan.

Bpk. Jance Manuputty

Dalam sambutannya, Ketua Saniri Bpk. Jance Manuputty yang mewakili Pemerintah Negeri Hatu menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh masyarakat Negeri Hatu yang telah bekerjasama sehingga Acara Hatu bakudapa 2010 dapat terlaksana sesuai dengan yang diharapkan. “Acara Hatu Bakudapa berjalan dengan baik, bukan karena kuat dan gagah dari manusia. Namun keberhasilan acara ini karena penyertaan Tuhan bagi Negeri Hatu yang kita cintai”. Lebih lanjut Bapa Oi (Bpk. Jance Manuputty red.) juga menyampaikan apresiasi yang tinggi dan menyampaikan terima kasih kepada Anak-anak cucu Negeri Hatu yang berada di tanah perantauan atas dedikasi dan pengorbanan mereka yang telah mendukung terlaksananya acara Hatu Bakudapa ini, walaupun berada di tempat yang jauh dan terhalang oleh gunung dan lautan yang terbentang luas.

Bpk. Jopie Picaulima (Ketua Hatu-Jakarta)

Seperti Ketua Saniri, Bapak Jopie Picaulima (Ketua Hatu-Jakarta) yang membawakan kata-kata sambutan mewakili Anak-anak Negeri Hatu dari Perantauan pun memberikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh Panitia Hatu Bakudapa, Pihak Gereja dan Pemerintah Negeri Hatu yang telah memprogramkan sebuah acara yang luar biasa ini. Dalam sambutanya, Om Jopie (Bpk. Jopie Picaulima red.) menyampaikan sebuah Moto Hatu Rantau “DUDUK SAMA RENDAH, BERDIRI SAMA TINGGI”. Ini adalah gambaran tentang sebuah kerinduan dari anak-anak Negeri Hatu di perantauan untuk menghilangkan segala perbedaan yang ada, dan menghilangkan segala macam rintangan yang selama ini terkesan sangat mendiskriminasikan kelompok atau perkumpulan-perkumpulan masyarakat Hatu yang berada di daerah-daerah lain di Indonesia. Lebih lanjut Om Jopie mengatakan, jika selama ini segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan dan acara-acara di Negeri Hatu selalu berorientasi kepada anak-anak negeri Hatu-Jakarta, maka sekaranglah saatnya untuk menghilangkan paradigma tersebut. Oleh karenanya, Om Jopie memberikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh anak-anak Negeri Hatu yang berada di daerah lain untuk turut berpartisipasi langsung dalam setiap kegiatan maupun acara-acara yang berada di Negeri Hatu yang kita cintai. Pada kesempatan itu, Om Jopie memberikan penghargaan yang tinggi  dan mendukung Basudara Hatu-Papua untuk menjadi Panitia Inti dalam Acara Hatu Bakudapa berikutnya yang sedianya akan dilaksanakan pada tahun 2013 atau 2015. Pada akhir dari kata sambutan itu, Om Jopie memberikan ucapan selamat berkarya kepada basudara Hatu-Papua “Selamat berkarya untuk Tuhan dan Negeri Hatu”.

Demikianlah kata-kata sambutan itu terucap dari hati yang tulus penuh cinta dari Ketua Saniri dan Ketua Hatu-Jakarta dalam acara istimewa itu.

Sekilas suasana hening dan serius yang tergambarkan dari setiap wajah selama mengikuti kata-kata sambutan yang terekam oleh bidikan kamera..

Foto by Debbie Samson
Foto by Debbie Samson

 

 

 

 

 

 

 

Foto by Debbie Samson
Foto by Debbie Samson

 

 

 

 

 

 

 

walaupun sudah larut malam, anak-anak kecil, besar, orang tua dan muda… mereka semua terlihat begitu menikmati setiap rangkaian dari kata-kata sambutan yang disampaikan

Foto by Debbie Samson
Foto by Debbie Samson

 

 

 

 

 

 

 

Foto by Debbie Samson
Foto by Debbie Samson

 

 

 

 

 

 

 

Setelah memberikan kata-kata sambutan, Bpk. Jopie Picaulima mempersilahkan Bpk. Juus Manuputty maju ke depan dan memperkenalkan beliau kepada semua yang hadir pada waktu itu. Inilah sang arsitek yang telah membuat Ka’abah dan atau Gereja Hatu dengan sangat megahnya dan menjadikan tempat itu menjadi tempat yang sangat nyaman untuk melakukan peribadatan. Setiap sudut dari ruangan gereja itu diukir dengan sangat indah, sehingga membawa pikiran kita jauh menerawang ke Taman Eden Surgawi.

Bpk. Juus Manuputty

 

 

 

 

 

 

 

 

Bentuk gereja bagian dalam hasil karya dari Om Yus (Bpk. Juus Manuputty red.)

Foto by Debbie Samson
Foto by Debbie Samson

 

 

 

 

 

 

 

Foto by Debbie Samson
Foto by Debbie Samson

 

 

 

 

 

 

 

Setelah perkenalan singkat itu dilakukan, selanjutnya Bpk. Jopie Picaulima mengundang Ibu Merry Risamasu untuk memimpin anak-anak Negeri Hatu dari perantauan ini menyanyikan lagu WASANDALE.  Mereka bernyanyi dalam keakraban dan kebersamaan. Saling berpegangan tangan dalam cinta dan kasih sayang. Itulah pegangan tangan yang menandakan eratnya hubungan saudara bersaudara di Negeri Hatukaturu Henamantelu. Pegangan tangan yang enggan untuk dilepaskan walaupun hanya sesaat.. Oh Tuhan, semoga saja kebersamaan ini akan terus terjaga dari waktu ke waktu dan bahkan sampai kapanpun..

Lirics Lagu Wasandale

Di zaman dahulu kala, negeri di gunung di Wasandale
Tempat tinggal tiga saudara, Adik dan Kakak se Ibu se Bapak

Satu ke Lima, satu ke Hatu, satu yang hilang sioh
Jadi sejarah dari dahulu sampai sekarang

Foto by Debbie Samson
Foto by Debbie Samson

 

 

 

 

 

 

 

Foto by Debbie Samson
Foto by Debbie Samson

 

 

 

 

 

 

 

Kebersamaan yang langkah ini semakin terasa sangat menyentuh dalam alunan lagu Wasandale…

Foto by Debbie Samson
Foto by Debbie Samson

 

 

 

 

 

 

 

Foto by Debbie Samson
Foto by Debbie Samson

 

 

 

 

 

 

 

Foto by Debbie Samson
Foto by Debbie Samson

 

 

 

 

 

 

 

Masih dalam suasana kehangatan diantara saudara bersaudara anak-anak cucu Negeri Hatu Manisee

Foto by Debbie Samson
Foto by Debbie Samson

 

 

 

 

 

 

 

Foto by Debbie Samson
Foto by Debbie Samson

 

 

 

 

 

 

 

Foto by Debbie Samson
Foto by Debbie Samson

 

 

 

 

 

 

 

Foto by Debbie Samson
Foto by Debbie Samson

 

 

 

 

 

 

 

Lagu Wasandale itu pun akhirnya berhenti.. namun harapan kebersamaan itu masih terus menjadi impian mereka. Selanjutnya Bpk. Pdt. J. Ch. Batlayeri memimpin acara penyembahan khusus untuk mendoakan anak-anak Negeri Hatu rantau ini. Lampu-lampu dalam gedung gereja itu dimatikan, dan hanya menyisakan cahaya dari  kerlap kerlip lampu pohon Natal yang terpasang indah di sudut ruangan yang kudus itu.

Foto by Debbie Samson
Foto by Debbie Samson

 

 

 

 

 

 

 

 

Sekejap ruangan yang besar itu menjadi hening.. sesaat kemudian lagu JANGAN KAMU TAKUT yang diambil dari buku Dua Sahabat Lama dinyanyikan dalam posisi setengah berdoa. Semua jiwa menerawang jauh.. hati terasa sangat sembilu ketika mengenang kembali orang tua maupun saudara-saudara tercinta yang telah tiada.. Lagu itu terus didengungkan oleh semua yang hadir di tempat itu. Air mata menetes deras tanpa tertahankan sedikit pun.  Bahkan  kata demi kata dari lagu itu seakan berat untuk diucapkan. Suasana yang sangat diliputi oleh keharuan.

Lirics of Lagu Jangan Kamu Takut

Jangan kamu takut, Aku adalah..
Itu Tuhan janji, biar ingatlah

Itu pun bri hidup, kalau tak senang..
Lagi pung bri kuat, bila engkau masuk prang.

Refrain :

Hai… tidak pernah….. Hai, tidak pernah…
Kelak Ia tinggalkan dikau..
Bahkan tiada pernah

Lagu itu masih saja didengarkan.. Ada kekuatan.. dan ada pula janji pengharapan yang terbesit dari alunan lagu itu. JANGAN KAMU TAKUT!! ya, demikianlah Janji Tuhan kepada setiap orang percaya.. Janji itu pulalah yang akan terus mengikuti kemana pun anak-anak cucu Negeri Hatukaturu Henamantelu ini pergi dan melangkah. Janji yang akan terus bersama kami sampai kesudahan.

Doa pun dinaikan oleh Hamba Tuhan Bpk. Pdt. J. Ch. Batlayeri untuk anak-anak Hatu rantau dan untuk Negeri Hatu tercinta sekaligus mengakhiri rangkaian acara yang istimewa itu. Acara itu berakhir pada pukul 23.00 (11 malam) WIT

Setelah serentetan acara Ibadah Kunci Tahun itu berakhir, maka Panitia Hatu Bakudapa dibawah komando Ibu Telly Risamasu Nampasnea selaku koordinator seksi konsumsi kemudian menyuguhkan makanan dan minuman untuk beramah-tamah. Suasana keakraban kembali terjalin di dalamnya. Intip mereka yuuuukkk ! Cekidooottt🙂

Foto by Debbie Samson
Foto by Debbie Samson

 

 

 

 

 

 

 

Foto by Debbie Samson
Foto by Debbie Samson

 

 

 

 

 

 

 

Suasana akrab yang tertangkap bidikan kamera, saat menanti datangnya waktu untuk mengakhiri tahun 2010 bersama keluarga besar di rumah masing-masing..

Foto by Zico Picaulima
Foto by Debbie Samson

 

 

 

 

 

 

 

Foto by Debbie Samson
Foto by Debbie Samson

 

 

 

 

 

 

 

Foto by Debbie Samson
Foto by Debbie Samson

 

 

 

 

 

 

 

Dentang denting jarum jam terus berputar mendekati pukul 00:00 WIT. Bayangan tahun 2011 kian nampak, sementara wajah tahun 2010 sebentar lagi akan pergi dan berlalu. Ya, Pergi dan takan pernah kembali lagi. Mereka mulai berkemas-kemas untuk menutup lembaran buku kehidupan di tahun 2010. banyak goresan pena yang terlukis dalam lembaran-lembaran itu. Kadang terlihat potret yang menyedihkan, membahagiakan bahkan adapula yang lucu dan konyol.

Perpisahan kini menjadi bagian akhir dari rangkaian Acara Hatu Bakudapa 2010. Mereka berpisah dan berkumpul bersama keluarga di rumah masing-masing. Dan kini jarum jam itu benar-benar mengarah tepat pada pukul 00:00 WIT. Ada secercah harapan baru untuk memasuki tahun 2011. Harapan besar untuk membangun Negeri Hatu yang permai.. dan harapan besar untuk dapat berjumpa lagi dengan orang tua dan basudara gandong di Tanah Kelahiran diwaktu-waktu mendatang. Tahun kini benar-benar telah berganti. Matahari 2011 kini telah terbit. Sekarang waktunya kami pergi lagi ke tanah orang untuk waktu yang tidak dapat diketahui.

Semua rangkaian Acara Hatu Bakudapa terlihat begitu mengagumkan. Bagaimana tidak, Kami dapat melihat ajaibnya perbuatan tangan Tuhan dalam pelaksanaan Acara tersebut. Tuhan yang ajaib dan luar biasa. Tak ada yang dapat menandingi kuasa-Nya. Bahkan diakhir dari penghujung tahun 2010 ini, DIA terus menunjukkan kemulian-Nya bagi Anak-anak cucu negeri Hatu dengan megahnya. Allah mengerti.. Allah peduli.. Dia memberikan segala kebutuhan. Hmmm, akhirnya Negeri Hatu menutup lembaran terakhir tahun 2010 dengan goresan tinta emas yang mengagumkan. Terima kasih Tuhan! Engkau telah menutup tahun 2010 itu bersama kami. Selamat tinggal 2010.  Selamat tinggal Acara Hatu Bakudapa 2010.. Selamat Tinggal basudara gandong di Negeri Hatu.. Kalian akan menjadi kenangan terindah bagi kami yang berada jauh di tanah orang. Mari kita melangkah untuk menjemput impian dan harapan di tahun 2011. Sampai jumpa lagi di acara Hatu Bakudapa selanjutnya. Amatoooooooooo

 

Aunty Debbie

Foto – foto yang terdapat dalam artikel ini adalah hasil jepretan dari Aunty Debbie Samson di Jakarta. Dankeee banya-banya Aunty telah mendokumentasikan rentetan Acara Hatu Bakudapa 2010 ini dalam bentuk gambar.. Sejuta cinta dan senyuman hanya untuk mu ♥ ♥ ♥

 

 


12 Comment(s)

  1. Robby G. Risamasu

    15 Februari 2011 pukul 1:38 pm

    Engka Puji Tuhan Yesus, Sangat luar biasa rentetan kata perkata yang membentuk paragraf-paragraf di dalam kalimat membuat om oby sangat terharu dan bangga. Engka brilian, Engka jangan bosan untuk menampilkan Negeri Hatu dan semangat selalu bersama Usi debbie, Tante Atha jakarta. Salam for mama, papa dan saudara-saudara samua. Om Oby (Hatu)



    • Vensca Ginsel

      16 Februari 2011 pukul 1:25 am

      Dear Om Obby,

      Danke Om Obby, Puji Tuhan Yesus!! artikel ini dibuat bukan karena hikmat dan kepintaran beta Om. Ini semua terselesaikan karena tuntunan Tuhan. Tuhan buat semua itu baik. beta bangga punya Om yang Hebat pula, bisa mendesign acara Hatu Bakudapa ini sedemikian rupa sehingga meninggalkan kesan yang teramat dalam. Iya, su pasti beta akan lakukan apa saja selama dibutuhkan utk menampilkan Negeri Hatu. Salamnya sudah langsung disampaikan Om Obby. Mama, Papa dan samua di rumah kirim salam manis, sayang dan rindu untuk Om Obby dan semua basudara gandong di Negeri Hatu.

      Sending lots of loves and big hugs ♥ ♥ ♥



  2. Debbie Samson

    16 Februari 2011 pukul 8:59 pm

    My dear Vensca,

    Jangan melihat akan foto-foto, tapi tulisannya yang sangat luar biasa ini, yang membuat setiap orang yang membacanya pasti mengeluarkan airmata. Vensca, rasanya belum puas kalau cuma membacanya sekali saja, Aunty saja sudah membaca artikel ini sampai berulang-ulang kali, sanking kagum dengan tulisan Vensca ini. Dan bukan itu saja, tulisan ini dibuat seakan-akan Vensca juga turut hadir dalam acara tsb. Salut euy !

    Tetap semangat ya Nona, jangan pernah merasa bosan mengerjakan dan mengisi blog ini dengan berbagai macam info tentang kita punya negeri Hatukaturu Henamantelu.

    Tuhan Yesus mau sayang katong basodara Hatu samua !

    Lots of love & kisses,
    Aunty Debbie



    • Vensca Ginsel

      17 Februari 2011 pukul 1:52 am

      My Dear Aunty Deb,

      Danke banya utk pujiannya Aunty. Puji Tuhan! ini semua karena pertolongan dari Dia sumber segala hikmat itu. Foto-fotonya sangat menginspirasi. tentu saja ini adalah suatu hasil karya fotografi yang hebat. Artikel ini tentu saja masih jauh dari sempurna Aunty. Mohon tetap memberikan advice dan masukan lah yah.

      Okay Aunty, mudah2an masyarakat Hatu dapat menerima tulisan dan Blog ini🙂 hmmm.. so rindu mau pulang lia Hatu. biar bukan orang Hatu tulen, maar bet cinta Hatu ooooooo😀 Semangaaaaaattttt !

      Tuhan Yesus mau sayang katong samua dan memberkati Negeri Hatu!!
      Lots of love & kisses ♥ ♥ ♥



  3. Martha Picaulima-Samson

    17 Februari 2011 pukul 9:06 pm

    Good Evening my dear Vensca,

    It’s my turn now… Beta nih su seng ada kata2 lain lai… You are really a Wonder Woman. Mantap paskali, beta baca akang blog ulang2, tapi seng ada bosan2nya, malah biking lebe tambah semangat. Rasa2 katorang masih ada di dalam Gereja di Hatu dan dengan penuh semangat bakumpul deng basodara2 yg lain. Begitu terharu saat2 seperti itu. Apalagi menyanyi kedua lagu ini, rasa2 hati mau pica2 saa… Kata2 mutiaranya dong, seng abis2 pikir, akang pung enak dengarnya, terima kasih banyak lai su biking akang blog yg bagus begini.

    Memang kalau orang pintar tuh lain paskali eeh… Katorang orang Hatu untung pung Jojaro seperti Vensca. TOP BANGET deh!!! Seng ada yang lawang lai… Jang bosan2 eeh Nona, tetap berjuang untuk HATU KATURU HENAMANTELU. Tuhan Yesus Memberkati katorang samua jua. AMIN!!!



    • Vensca Ginsel

      20 Februari 2011 pukul 12:27 am

      My dear Aunty Atha,

      Hi Aunty.. danke banya lai su baca isi dari blog ini. Puji Tuhan!! semua ini adalah hasil karya dari Sang Creator di atas temi Aunty. BTW, Ngomong tentang Negeri Hatu memang selalu memunculkan keharuan, apalagi untuk katong yg berada jauh di tanah orang kan yah Aunty. Moment2 kebersamaan seperti itu akan terus diingat dan dirindukan. bahkan akan selalu menjadi topik pembicaraan dalam banyak kesempatan.

      Aunty, Blog Hatu Negeriku ini adalah hasil kerja keras dari satu team work yang seng ada dua. bayangkan saja, hanya melalui kabel2 jaringan dan HP, tim ini bisa kerja cepat. Hatu-Timika-Jakarta, bukan daerah yg berdekatan loh.. tapi jadinya seperti ini kan yah. Mantap dah! Apresiasi yg tinggi untuk My beloved uncle Robby Risamasu di Hatu, Ambon and my beloved Aunties (Aunty Debbie Samson dan Aunty Atha Picaulima-Samson) di Jakarta yg punya andil besar utk terbentuknya blog ini. Semangat terus untuk Negeri tercinta; Hatukaturu Henamantelu.

      Tuhan Yesus memberkati katong samua!! Tuhan Yesus memberkati Negeri Hatu!! Amin!



  4. Antonetha De Santos-Rondonuwu

    17 Februari 2011 pukul 10:29 pm

    thanks for sharing. tulisan yg bagus sekali membuat hati tersentuh



    • Vensca Ginsel

      20 Februari 2011 pukul 12:35 am

      Hi Antonetha, thanks sdh mengunjungi blog Hatu Negeriku. nah, blog ini adalah salah satu situs yang menampilkan sisi lain dari salah satu kampung/desa atau negeri (istilah klasik di Maluku) yang berada di daratan pulau Ambon. ingin mengetahui lebih banyak tentang Desa Hatu ini? silahkan menelusuri setiap artikel yg terdapat dalam blog ini yah.. trus kalo gak ngerti atau penasaran atao apalah istilahnya, silahkan kirimkan pertanyaan anda pada halaman Contact Us. dengan senang hati kami akan menjawab semua pertanyaan anda.

      Thank you!! GBU always!

      Cheers



  5. alberth manuputty

    25 Februari 2011 pukul 2:07 pm

    terima kasih tante yg sd mengorbitkan katong poeng Negeri Hatu………………………………….bt paling bangga jadi orang Hatu katuru henamantelu >>>>Gbu ……………..



  6. alberth manuputty

    25 Februari 2011 pukul 2:11 pm

    Muda mudahan acara Hatu bakudapa jg tallu lama ly ………………………supaya katong bisa bakudapa ly …………………………………..bgi semua orang hatu dimana saja jg lupa gabung disini ……………..



  7. Inggrid Risamasu

    3 April 2012 pukul 10:07 pm

    air mata tumpah jua begitu melihat dan membaca artikel ini, salam sayang dan hormat untuk semua orang2 Negeri Hatu, Tete Manis sayang katong samua selalu. ( dari Inggrid Risamasu di Merauke Papua )



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: